Cardiology Hotspot Headline Animator

Tampilkan postingan dengan label Cardio News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cardio News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2008

Kendalikan Stres dan Hipertensi, Raih Produktifitas



03 Jul 2008

Berdasar Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, data Pola Penyebab Kematian Umum di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah dianggap sebagai penyakit pembunuh nomor 1 di Indonesia. Dan gangguan jantung dan pembuluh darah seringkali bermula dari hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Selain itu, hipertensi yang merupakan suatu kelainan vaskuler awal, dapat menyebabkan gangguan ginjal, merusak kerja mata, dan menimbulkan kelainan atau gangguan kerja otak sehingga dapat menghambat pemanfaatan kemampuan intelegensia secara maksimal.

Diperkirakan 250 orang menghadiri Seminar Pengendalian Hipertensi Berhubungan dengan Stres dan Intelegensi untuk Hidup Berkualitas yang dilaksanakan Rabu, 2 Juli 2008, di Gedung Serbaguna Depkes Blok C, Jl. HR Rasuna Said Jakarta Selatan. Partisipan terdiri dari para pegawai di lingkungan Departemen Kesehatan, Pengurus Dharma Wanita Departemen Kesehatan dan beberapa undangan lain termasuk keluarga para pegawai, terutama yang telah berusia di atas 40 tahun, yang datang untuk mendengarkan penjelasan dari para pembicara yaitu ahli jantung dari RS Mitra Kelapa Gading, ahli kesehatan jiwa dari RSJ Soeharto Heerdjan Grogol, dan Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia.
Seminar sehari ini dilaksanakan atas kerjasama antara Biro Kepegawaian, Biro Umum, Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Penyakit Tidak Menular, Pusat Intelegensia, Pusat Promosi Kesehatan dan Pusat Komunikasi Publik. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Hipertensi Sedunia, 17 Mei 2008, yang puncaknya akan diselenggarakan pada minggu pertama bulan Agustus 2008 di Istana negara. Berbagai pihak terlibat dalam rangkaian acara ini, pemerintah, swasta, pemuda, lembaga swadaya masyarakat dan berbagai kelompok masyarakat.

Menurut Sekretaris Jenderal Depkes, dr. Sjafii Ahmad, MPH, dalam sambutan pembukaan seminar, hipertensi sebetulnya merupakan penyakit yang dapat dicegah jika faktor risiko dapat dikendalikan. Pengendalian hipertensi harus didasari partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, dengan mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Sesjen mengharapkan gahwa seminar dapat menambah wawasan peserta, khususnya pegawai Depkes dan keluargannya. Deteksi dini bagi mereka yang belum teridentifikasi dan kepatuhan minum obat bagi yang sudah terkena hipertensi adalah kunci pengendalian hipertensi.

Agar angggota masyarakat dapat menjaga diri dari hipertensi, karena sebetulnya hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, yang salah satunya adalah keadaan tertekan yang sering disebut stres. Stres dapat memicu peningkatan hormon adrenalin dan kortisol, juga sering membuat orang memiliki kebiasaan makan yang kurang baik, mengkonsumsi rokok atau merokok, dan meninggalkan olah raga. Keadaan-keadaan tersebut jika tidak ditanggulangi, berpotensi menjadi faktor risiko hipertensi. Pengendalian stres berdampak besar pada penurunan tekanan darah. Jadi, mengendalikan tekanan psikologis berarti mengendalikan tekanan darah. Selain itu, hipertensi juga dapat dicegah dengan program hidup sehat tanpa rokok, olah raga cukup, konsumsi makanan berserat, pengurangan asupan garam.

Dari pemeriksaan kesehatan terhadap 500 pegawai Departemen Kesehatan, terdeteksi bahwa 99 orang menderita hipertensi. Prevalensi hipertensi di Indonesia diperkirakan mencapai 17-21% dari populasi, dan kebanyakan tidak terdeteksi karena manusia dapat saja mengalami gangguan hipertensi tanpa merasakan gangguan atau gejalanya. Menurut WHO, dari 50% penderita hipertensi yang terdeteksi, hanya 25% mendapat pengobatan, dan hanya 12,5% dapat diobati dengan baik.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Rabu, 02 Juli 2008

Beberapa Fakta tentang Rokok




Nikotin, adalah salah satu zat yang terdapat di rokok. Nikotin mempunyai efek stimulan dan adiksi/ ketagihan yang sangat kuat dan merupakan racun yang sangat kuat sehingga sering menjadi bahan dasar insektisida.

Rokok mengandung sedikit nikotin dan sebagian besar rusak oleh panasnya api rokok. Tetapi walaupun sedikit, tetapi cukup membuat adiksi. Jumlah nikotin yang diserap tubuh tergantung dari beberapa faktor misal jenis rokok, kedalaman menghisap rokok dan pemakaian filter.

Dalam dosis kecil nikotin berfungsi sebagai stimulan saraf, meningkatkan aliran adrenalin dan menstimulasi hormon, meningkatkan denyut jantung sehingga bisa menjadi tak teratur (irregular) serta bisa menyebabkan tekanan darah naik dan mengurangi nafsu makan. Juga bisa menyebabkan mual dan muntah.

Efek lain seperti kerusakan paru dan kanker paru disebabkan oleh komponen lain seperti tars dan produk-produk lain. Rokok berperan 90% dalam kasus kanker paru. Selain itu menyebabkan kanker larynx, rongga mulut esophagus, kandung kemih ginjal dan pankreas. Selain kanker, rokok juga meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung koroner, prematuritas dan kematian janin pada kandungan.

Kandungan zat berbahaya pada rokok adalah:

  1. Dalam bentuk sediaan utuh:

1. "Tar"a à menyebabkan Kanker

2. Polynuclear aromatic hydrocarbons à menyebabkan kanker

3. Nicotine à stimulan dan depresan saraf dan endokrin; zat adiktif

4. Phenol à membantu timbulnya kanker dan menyebabkan iritasi

5. Cresol à membantu timbulnya kanker dan menyebabkan iritasi

6. b-Naphthylamine à menyebabkan Kanker

7. N-Nitrosonornicotine à menyebabkan Kanker

8. Benzo[a]pyrene à menyebabkan Kanker

9. Trace metals (e.g., nickel, arsenic, polonium 210) à menyebabkan Kanker

10. Indole à Akselerator kanker

11. Carbazole à Akselerator kanker

12. Catechol à membantu timbulnya kanker dan menyebabkan iritasi

  1. Dalam bentuk asap rokok:

1. Carbon Monoxide à mengganggu transport dan pemakaian oksigen à pusing

2. Hydrocyanic acid à iritasi saluran nafas dan merusak cilia (rambut-rambut halus di saluran nafas)

3. Acetaldehyde à iritasi saluran nafas dan merusak cilia

4. Acrolein à iritasi saluran nafas dan merusak cilia

5. Ammonia à iritasi saluran nafas dan merusak cilia

6. Formaldehyde à iritasi saluran nafas dan merusak cilia

7. Oxides of nitrogen à iritasi saluran nafas dan merusak cilia

8. Nitrosamines à menyebabkan kanker

9. Hydrazine à menyebabkan kanker

10.Vinyl chloride à menyebabkan kanker

11. Dan lain-lain

Perokok pasif juga mempunyai resiko yang sama besar dengan perokok aktif. Juga bisa mencetuskan penyakit asma, pneumonia, bronkhitis dan gangguan sirkulasi darah.

Efek-efek negatif rokok yang lebih besar dibandingkan dengan efek positifnya seperti menyebabkan kerusakan saluran nafas, kanker, gangguan jantung, stroke, prematur dan kematian janin dalam kandungan pada ibu yang hamil dsb seperti tadi disebutkan di atas. Konon katanya total ada 4000 macam zat yang ditemukan dalam rokok dan kandungannya.

(dr.Yandi Ariffudin)

Suplemen Kalsium Meningkatkan Risiko Kardiovaskular?


Kalbe.co.id - Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa suplemen kalsium diperkirakan dapat meningkatkan kejadian vaskular pada wanita usia lanjut. Temuan ini tidak diperkirakan sebelumnya, karena penelitian-penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa suplemen kalsium dapat memperbaiki kadar kolesterol darah. Hal ini dikatakan oleh dr. Ian R Reid ( Kalbe.co.id - University of Auckland, New Zealand).

Hal ini tentulah sangat mengejutkan, karena pasar untuk suplemen kalsium mencapai 3 milyar dolar tiap tahunnya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dr. Mark J Bolland (University of Auckland, New Zealand) dan rekan, bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplemen kalsium pada densitas tulang. Sejak awal penelitian diperkirakan bahwa kalsium dapat mencegah serangan jantung. Namun sangatlah mengejutkan bahwa yang terlihat bukannya penurunan, melainkan peningkatan kejadian serangan jantung. Hasilnya tampaknya begitu meyakinkan. Dari 3 penelitian sebelumnya, termasuk salah satunya dari Women's Health Initiative (WHI) di Amerika Serikat, memperlihatkan bahwa tidak ada perbaikan yang bermakna pada penurunan angka kejadian serangan jantung setelah pemberian suplemen kalsium, sebaliknya ada kecenderungan peningkatan risiko.

Banyak peneliti yang mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk memberikan pernyataan mengenai hal ini. Judy O'Sullivan, jurubicara daripada British Heart Foundation mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian-penelitian yang lebih agresif, sebelum diambil kesimpulan mengenai suplemen kalsium. Setiap orang yang telah diberikan suplenmen kalsium oleh dokter untuk memberikan perlindungan pada tulang dianjurkan untuk terus mengkonsumsi suplemen kalsium dan tidak menghentikan sendiri pemberian suplemen tanpa berkonsultasi dahulu dengan dokter.

Hasil penelitian :

* Angka kejadian IM, stroke, dan end point gabungan lebih banyak ditemukan pada kelompok yang diberikan kalsium

* Namun apabila kejadian angka masuk rumah sakit di New Zealand dari pusat data nasional yang tidak dilaporkan juga ditambahkan, angka kejadian risiko relatif IM adalah 1,49 (p=0,16) dan risiko relatif end point gabungan adalah 1,21 (p=0,32), bila dibandingkan antara kelompok yang diberikan kalsium dengan kelompok yang diberikan plasebo.

Dari hasil penelitian di atas diketahui bahwa penelitian ini dengan jelas memperlihatkan bahwa ada hubungan antara pemberian kalsium dengan angka kejadian kardiovaskular. Namun masalah ini perlu dilihat dengan hati-hati sebelum mengambil keputusan apapun yang berhubungan dengan suplementasi kalsium. Ditambahkan lebih lanjut oleh editor bahwa hasil penelitian ini sulit untuk diinterpretasi, mengingat ada beberapa kelemahan dalam penelitian yang pada akhirnya menyebabkan hasil yang lebih tinggi pada kelompok kalsium.

Penelitian-penelitian sebelumnya yang telah dilakukan adalah di Inggris, Australia dan Amerika Serikat. Dengan adanya penelitian di New Zealand sebagai penelitian ke-4, terlihat adanya kecenderungan yang menghubungkan antara serangan jantung dengan suplementasi kalsium. Hasil penelitian ini meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian IM pada wanita pasca menopause yang menerima suplemen kalsium.

Selain itu para peneliti mengingatkan akan pentingnya faktor umur. Umur wanita yang mengikuti penelitian di New Zealand sudah sangat tua (rata-rata berumur 70 tahun), demikian pula dengan pasien wanita pada penelitian di Australia. Wanita yang mengikuti penelitian di Amerika dan Inggris 10 tahun lebih muda. Ada kecenderungan peningkatan kejadian kardiovaskular yang lebih kuat pada kelompok wanita yang berumur lebih tua, sehingga ada anggapan bahwa penggunaan kalsium pada pasien wanita yang lebih muda lebih aman, dibandingkan dengan pemberian kalsium pada kelompok umur yang lebih tua.

Jikalau benar, mengapa kalsium dapat meningkatkan angka kajadian kardiovaskular? Diperkirakan bahwa asupan kalsium yang tinggi, apalagi bila pemberian kalsium secara intravena dapat mempercepat penempelan kalsium pada dinding pembuluh darah. Apabila pasien sudah menderita penyakit jantung, maka penambahan kalsium dianggap meningkatkan kejadian kardiovaskular. Sebaliknya, apabila pasien pada usia lanjut, namun memiliki arteri koroner yang baik, pemberian sulplemen kalsium dianggap tidak akan memberikan masalah yang berarti. Namun pendapat inipun belum bisa dibuktikan dengan pasti.

Dalam penelitian ini terbukti bahwa suplemen kalsium dapat menghambat osteoporosis. Pemberian kalsium dengan dosis 500 mg tidaklah sekuat 1 mg untuk mencegah osteoporosis, namun memiliki profil lebih aman. Bagi pasien yang sudah menderita osteoporosis dianjurkan untuk diterapi dengan obat-obat yang spesifik untuk terapi osteoporosis dan tidak mengandalkan suplemen kalsium saja.

Selanjutnya dr Reid dan rekan memiliki sejumlah rencana untuk meneliti hal ini lebih lanjut. Mereka juga telah menyelesaikan penelitian yang melibatkan pasien pria, yang lebih muda, dengan mengamati kalsium pada arteri koroner. Selain itu mereka merencanakan untuk membuat sebuah metaanalisis yang melibatkan penelitian yang telah dilakukannya (di New Zealand) dengan penelitian yang telah dilakukan di Inggris, Amerika Serikat dan Australia.

Kesimpulan:

* Menurut penelitian yang telah dilakukan di New Zealand, dan didukung oleh beberapa penelitian sebelimnya yang dilakukan di Amerika Serikat, Australia, dan Inggris, pemberian suplemen kalsium (1 gram) pada pasien wanita pasca menopause meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular.

* Sebelum ada penjelasan dan hasil yang pasti mengenai hal ini, pasien yang oleh dokternya diberikan suplemen kalsium dianjurkan untuk meneruskan konsumsi suplemen kalsium.

* Pasien yang sudah menderita osteoporosis dianjurkan untuk tidak mengandalkan suplemen kalsium, melainkan menerima terapi yang spesifik untuk osteoporosis disamping suplemen kalsium.

* Penelitian lanjutan telah dilakukan yang melibatkan pasien pria dengan usia lebih muda, sedangkan meta-analisis antar penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sedang dibicarakan.